Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

7. Putih (The End)

Gambar
Segalanya terasa hambar sekarang.  Perlahan aku membencimu.  Ku lepaskan ikatan yang melekat di jemariku.  Aku bersumpah demi kebahagiaanku. Tak akan lagi memercayai mu.  Mungkin hatiku belum siap melepaskan mu,  tak apa. Aku akan melatih hatiku patah hati.  Cara terbaik melupakan mu adalah membiarkan hatiku terbiasa tanpa mu.  Tak ada cerita yang akan ku bagi dengan mu.  Perlahan namun pasti. Aku pergi.  Menyelamatkan hatiku.   Karena sejatinya tak ada ketenangan dalam cintaku.  Aku kembali putih. 

6. Puncak Kesedihan

Gambar
Dalam sakit yang menghunus ke jantungku.  Aku berlari.   Meninggalkan kamu dengan nya.  Berat rasanya mengikhlaskan harapan yang ku panjatkan dalam doa doa.  Mengingat betapa besar dosaku membunuh jabang bayiku.  Menuruti kemauan mu.  Demi menjaga nama baik keluarga.  Aku berfikir selama ini kamu melampiaskan kekesalanmu kepada ku.  Wanita-wanita itu hanyalah pembuktian keraguan mu terhadapku. Kamu menyimpannya, seolah menjadi tiketmu untuk pergi.  Kamu menamparku.  Atas dosa dosa cintaku sebelum kamu.  Seburuk apalagi kamu akan menghukumku?  Apa kau tau apa yang benar benar kurasakan sekarang? Aku mati rasa.  Aku hanya ingin bersamamu.  Meski perasaan ku terus membunuhku.  Ku biarkan diriku jatuh dalam cinta.  Mengaburkan kejahatanmu. 

5. Angin

Gambar
Dilihat dari sudut manapun pasti semua orang berfikiran hal yang sama.  Ini adalah tindakan bodoh.  Ku sesapi perasaan sedih itu,  ku telan habis badai yang menyapu duniaku.  Sesekali ku ajak kamu bercengkerama, menunjuk bangunan-bangunan tinggi yang pernah kita kunjungi. Bercanda. Seolah aku tak apa apa.  Ku naikkan manja suaraku,  agar tak timbul kecurigaan di hatimu.  Jangan tanya kemana aku membawa mu. 

4. Mendung

Gambar
Seluruh tubuhku telah basah oleh hujan. Kantung-kantung air menggantung menghiasi mataku.  Sembab.  Jejak - jejak air menghiasi wajahku,  melunturkan riasan wajahku.  Satu - dua rencana terkumpul dalam kekalutan.  Ku seka kesedihan, kemudian menggali lebih dalam.  Hatiku mantap. Memaksa mu membongkar segala kepahitan.

3. Gerimis

Gambar
  Awan gelap mulai menutupi cahaya cahaya harapan, kabut tebal mulai turun mengaburkan harapan dan doa yang tersenandungkan. Gerimis kesedihan mulai deras.  Tak pelak guntur menyambar seluruh janji janji ingkar.  Ku sambut diriku dibawah derasnya hujan.   Ku biarkan tetes tetes air membasahi seluruh wajahku.  Aku menangis dalam diam.  Berlindung di balik kain penutup mulutku.   Berharap tak seorangpun menyadari kesedihanku.  Aku larut,   Menyatu dalam kehampaan. 

2. Badai

Gambar
  *Hantaman Kedua* Tak mau berlarut-larut dalam situasi yang tak nyaman. Meski jemari ku masih bergetar hebat,  kutekan cepat nomor dengan urutan paling atas yang baru saja kuhubungi.  Tersambung. Satu demi satu pertanyaan dengan tanda tanya besar mulai terkuak.  Muncul lubang besar dihatiku.  Seperti di pukul pasak yang ujungnya  runcing. Kemudian di cabut paksa hingga lubang tersebut menganga lalu kemudian berdenyut terasa sangat menyesakkan. Lantas apa selama ini?  Aku mulai meragukan konsistensi hubungan ini. Meragukan siapa aku. Ide - ide gila dan tak masuk akal merasuki secara paksa.  Masih juga hatiku bebal rupanya.  Ternyata tak ada yang menjamin bahwa jatuh cinta bisa membuat mu bahagia.

1. Badai

Gambar
  *HANTAMAN PERTAMA* Suara di ujung telefon mulai bergetar, Gemuruh jantung ku bergema. Mulai menerka masalah apalagi ini ? Fikiranku menelisik.  Dada yang bergetar hebat,  hingga nafasku tersengal - sengal.  Mulai terasa kering kerongkonganku,  seolah seluruh air mulut terhisap menuju jantung dan memompa keras aliran darahku.  Perlahan mulai terasa dingin pada kepalan tangan yang menggenggam erat lalu terjun mengalir cepat hingga telapak kaki.  Ku tatap nanar langit - langit berhias lampu gemerlap.  Sungguh sangat tak cocok dengan atmosfer saat ini.  Kaki ku mulai lemas dan kehilangan tenaga untuk menopang tubuhku,  hampir saja aku jatuh terduduk kalau tidak ada sofa kecil disekitarku.  Dengan cepat kutarik beban tubuhku,  hingga terhempas kuat dan terdengar suara decitan sofa. Untunglah ruang tunggu saat itu sepi,  hanya ada seorang anak perempuan yang sibuk bermain dengan gawainya.   Dengan sisa keberanian yan...